Estimasi dalam Pengelolaan Proyek Sistem Informasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia estimasi memiliki arti perkiraan atau penilaian. Perkiraan atau penilaian ini merupakan salahsatu proses yang dilakukan dalam perencanaan sebuah proyek. Estimasi dalam perencanaan sebuah proyek dilakukan dua kali yaitu pada saat fase definisi dan setelah fase analisis. Pembuat proyek harus memeriksa ulang estimasi untuk disesuaikan dengan rencana akhir proyek. Estimasi tidak boleh dilakukan secara berlebihan karena ini akan mempengaruhi waktu pengerjaan sebuah proyek menjadi tertunda dalam jangka waktu yang cukup lama dan menyebabkan keterlambatan yang tidak diharapkan.



Dua hal yang perlu diperhatikan :

  • Karena proyek sedang berjalan, akurasi estimasi harus bisa memperbaiki pengetahuan tentang peningkatan proyek aslinya.

  • Pada awal proyek, kebutuhan user merupakan hal yang sangat penting, sehingga pertimbangan yang tergesa-gesa pada implementasi fisik harus dihindari.  


Dasar Estimasi Perangkat Lunak

  • Kebutuhan data historis : memerlukan informasi bagaimana proyek yang telah diimplementasikan sebelumnya, terutama bahasa pemrograman dan tool yang digunakan, standar yang dipakai dan pengalaman staf.
  • Metrik pekerjaan: biasanya tidak mungkin menghitung langsung harga aktual atau waktu yang diperlukan untuk merealisasikan proyek. Waktu yang dipakai untuk menulis program bisa berbeda sesuai kompetensidan pengalaman software developer. Secara praktis, untuk mengukur volume pekerjaan didasarkan pada jumlah source lines of code (SLOC) atau function points.    

  • Kompleksitas : Telah banyak usaha yang dilakukan untuk mengukur kompleksitas secara obyektif, namun seringkali akan tergantung penilaian subyektif estimatornya.

Teknik-Teknik Estimasi Biaya Perangkat Lunak 

  • Algorithmic models : menggunakann ‘effort driver’ yang menggambarkan karakteristik dari sistem target dan lingkungan implementasi untuk memprediksi biaya.

  • Expert  judgement : dimana nasehat staf yang memiliki kemampuan  sangat diharapkan 

  • Analogy : kemiripan, kelengkapan, proyek diidentifikasi dan biaya aktualnya digunakan sebagai dasar estimasi proyek baru.

  • Parkinson : mengidentifikasi kelayakan biaya staf untuk mengerjakan proyek dan menggunakannya sebagai estimasi   (bukan merupakan metode prediksi biaya yang sebenarnya).

  • Price to win : estimasi harus kelihatan cukup rendah untuk memenangkan kontrak.  

  • Top-down: keseluruhan estimasi diformulasikan untuk keseluruhan proyek yang kemudian dipecah ke dalam usaha yang  diperlukan untuk komponen-komponen tugas.

  • Bottom-up : komponen-komponen tugas diidentifikasi, diukur dan dilakukan estimasi sendiri-sendiri untuk kemudian dijumlahkan  


Salahsatu contoh estimasi:


Estimasi Anggaran dan Analisis Keuangan
Untuk membangun Sistem Informasi berbasis komputer, pemilik PT. IWAN CAHAYA SENTOSA menganggarkan biaya sebesar Rp. 19,000,000,- (hanya untuk Sistem Informasi) yang pengerjaannya dilakukan oleh “Pengembang Software” sebagai “out-sourcing” (tenaga lepas)  sedangkan pembayaran personil dari Pengembang Software diserahkan sepenuhnya kepada Manajer Proyek. Sedangkan estimasi anggaran secara keseluruhan adalah Rp. 29,000,000,- dengan rincian sebagai berikut :






Sumber:



 

Review Penggunaan Sosial Media dalam Mengkritisi Akun Milik Pemerintah

Kali ini saya akan melakukan sebuah review yang ditujukan pada akun sosial milik pemerintah @kemendag via Twitter. Review yang akan saya bahas mengenai isu Peraturan Menteri Perdagangan No.6 2015 dikutip dari finance.detik.com, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Srie Agustina menjelaskan Kemendag hanya merevisi 1 pasal yang ada di dalam Permendag No 20 Tahun 2014 dan menambah 1 pasal baru.

"Yang berubah hanya 2 pasal," kata Srie di Gedung Utama Kemendag, Jalan Ridwan Rais Jakarta, Rabu (28/01/2015).

Ia menuturkan pasal yang direvisi yaitu pasal 14 di dalam Permendag No. 20/2014. Di dalam Permendag lama disebutkan bahwa yang bisa menjual bir adalah pengecer yang terdiri dari minimarket, supermarket, hipermarket, dan pengecer lainnya.
Dengan adanya Permendag baru, maka ada revisi dengan menghilangkan minimarket dan pengecer lainnya. Artinya minimarket dan pengecer tak boleh menjual bir.

Kemudian pasal baru yang ditambahkan adalah pasal 2 yang mengatur pengecer minuman beralkohol seperti minimarket dan pengecer lainnya diberi waktu paling lambat 3 bulan untuk menarik stok bir mereka, terhitung sejak 16 Januari 2015.

Selain itu, pembelian bir di hipermarket dan supermarket membatasi usia pembeli bir di atas usia 21 tahun atau dengan menunjukkan kartu identitasi (KTP). Sementara itu untuk penjualan minuman beralkohol di restoran dan cafe dan rumah makan, maka harus diminum langsung di tempat alias tidak boleh dibawa pulang atau keluar.

Hal ini mengundang respon masyarakat pemilik akun sosial media Twitter untuk menanggapi peraturan tersebut, berikut adalah gambar dari screenshot akun @Kemendag, Tweet yang ditujukkan untuk akun @Kemendag dan Akun @AntiMiras_ID.



Dari Tweet masyarakat yang saya amati, seperti biasa respon masyarakat terdiri dari pro dan kontra. Sementara akun @AntiMiras_ID adalah akun yang menampung dan mensosialisasikan dukungan terhadap peraturan ini. Beberapa masyarakat yang menolak peraturan ini menganggap bahwa peraturan ini tidak akan menyelesaikan masalah yang selama ini ditimbulkan miras dan hanya merupakan usaha untuk menarik perhatian serta terdapat unsur politisasi di dalamnya. Masyarakat juga khawatir bahwa pemerintah tidak bisa menerapkan peraturan ini terutama untuk miras-miras yang bersifat tradisional.

Tweet masyarakat yang ditujukan kepada akun @Kemendag tidak diberikan respon yang berarti karena menurut saya akun @Kemendag hanya memperbarui informasi tentang perdagangan di Indonesia, kegiatan-kegiatan yang tengah dilakukan pemerintah dan bukan untuk memberikan tanggapan balik terhadap pendapat masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari perbedaan waktu dan tweet yang saya amati dari akun @Kemendag dan Tweet yang dibuat oleh masyarakat.

Bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam mengkritik sudah cukup baik meskipun beberapa masih menggunakan bahasa yang kasar akan tetapi menurut saya masyarakat sudah berusaha cukup baik dalam menyampaikan aspirasinya.



Sumber:
http://finance.detik.com/read/2015/01/28/202639/2817027/4/ini-rincian-aturan-larangan-bir-dijual-di-minimarket
https://tweetdeck.twitter.com/
https://twitter.com/AntiMiras_ID
https://twitter.com/Kemendag