Surat Penutup

Sebagaimana halnya aku tak mengerti bagaimana semua bermula, akupun tak tahu bagaimana sesuatu akan berakhir. Aku masih belum akan berhenti bicara cinta dan masih akan mencari bagaimana cinta akan bekerja di hidupku. Dalam surat penutup ini tidak banyak yang akan aku bicarakan, ini akan terdengar seperti basa-basi saja karna jujur selama 30 hari belakangan aku menikmati memutar otak merangkai kata untuk membicarakan cinta.

Untukku adalah menyenangkan ketika bisa merangkai kata lalu menumpahkan rasa dalam tulisan, tapi memang aku tak selalu bisa melakukannya, hanya sebuah kenikmatan sementara yang sengaja tak aku lakukan setiap waktu mengingat akupun menghargai batas. Kelak, ketika membaca ulang surat-suratku dalam #30HariMenulisSuratCinta ini, aku pasti akan tersenyum sendiri seperti biasa, seringkali aku tak menyangka bisa menyusun kata sedemikan rupa. Beberapa hal memang masih menjadi sesuatu yang tak ku sangka padahal sudah terjadi dan memberikan hasil.

Selalu ada suara-suara di kepalaku yang membuat aku ingin menuliskan semuanya, tapi setelah ku fikir tidak semua hal dalam pikiranku baik untuk dituliskan. Mengutip sebuah kalimat penulis favoritku, kira-kira seperti ini bunyinya "Jika ingin menjadi penulis ada 2 syarat utama, pertama, menulislah sampai kehabisan kata, kedua, jangan pernah kehabisan kata" aku mungkin tak bisa tak kehabisan kata, tapi aku yakin selalu ada hal yang bisa ku tuliskan terutama ketika hening mulai menggerayangiku. Ya, selagi menunggu hening, mungkin aku akan kembali meneruskan hobi membaca dan menonton atau sekedar mencari inspirasi dalam imaji dan keramahan semesta.

Setelah ini aku mungkin hanya akan menulis di 140 karakter dalam sebuah sosial media, seperti yang ku katakan sebelumnya, aku menghargai batas dan aku fikir akan lebih menantang jika bisa menulis dalam keadaan terbatas. Terima kasih #30HariMenulisSuratCinta karena telah menjadi bagian menyenangkan dalam acara liburanku, terima kasih karena telah menampung perspektif sederhana yang ku tuliskan dan ku bagi pada dunia yang mungkin bersifat maya ini, semoga di masa yang akan datang aku memiliki keinginan dan kesempatan untuk menulis denganmu lagi.

Dendam Kekasih

Apa yang ada di balik ekor matamu kekasih, endapan masa bodoh atas khianat yang pernah menyapamu. Kamu telah tak sudi menyebut namanya. Kamu telah mengubur sangat dalam ingatan yang apabila kembali hanya akan buatmu meradang. Kamu akan sekuat tenaga menghindari ajakan waktu untuk sekedar mengenang. Kamu lebih suka berlari mengumpulkan peluh untuk menghindar daripada harus bergumul air mata disiksa kenangan manis, yang mati dihujam ribuan mata pisau dusta.

Sangat kejam kekasih, setitik rasa yang kau kumpulkan dalam detik bernafaskan cinta, kini berubah menjadi kepura-puraan dihiasi senyum sengit. Tak ada lagi alasan yang bisa membuatmu lebih baik, betapa romantisme kian padam lalu cerita berubah menjadi horror mengerikan.

Tabahlah kekasih, jangan dulu membenci cinta dan membiarkan dia hina hanya karna sebuah masa kelam. Cinta adalah sebuah kekekalan yang tak bisa musnah hanya berubah bentuk.

Ada Surat Datang

Ini sedikit kesan dan pesan untuk suratmu pada : https://frydnt.wordpress.com/2015/02/16/pria-seperti-apa/

Hey, saat membaca suratmu ini, aku seperti mendengar suara hatimu bicara, pun di surat-suratmu yang lain. Aku menyukai bagaimana kamu melihat detail apa yang sedang kamu rasa, dan saat mereka kamu bingkai dalam kata. Entah apa yang sejatinya telah kamu lewati, kamu tetap menatap indah dengan keindahan walaupun ada luka yang mengitarinya.

Pria sepertimu, bolehkah ku tebak ? setidaknya kamu adalah pria yang mampu dan mau berusaha menghargai sebuah kenyataan dalam jalan-jalannya yang baik. Semoga tebakanku tak meleset jauh ya, aku memang hanya memahami lewat tulisanmu saja. Tapi ada kesamaan dalam tulisanmu yang membentuk sebuah untaian benang merah.

Semoga pria sepertimu menjadi muara untuk perempuan yang meski tak lebih indah dari yang pernah kau temui, tapi bisa memberi arti jauh lebih baik. Semoga pria sepertimu, kelak hidup dalam anugerah menyayangi diimbangi kemampuan saling menginspirasi, agar waktu-waktu yang akan kalian lewati memiliki rekam jejak seunik prasasti.

Surat Untuk Langit

Hai langit, apa kabarmu hari ini ? Ku dengar banyak hal hebat berasal dari kamu. Bidadari katanya jatuh dari langit ? Apakah kamu menjatuhkan mereka ? Jika ya, mengapa ? Lalu apakah benar, mereka yang pergi meninggalkan dunia ini berada di dalammu ?

Langit, lelahkah kamu menggendong semesta ? semoga tidak, karna kami masih butuh kamu langit sebagai tempat kami meyakini bahwa hal-hal hebat ada di balik kamu. Mereka bilang aku harus menggapai cita-citaku sampai setinggi kamu, adakah batas ketinggianmu bisa ku capai ?

Oia langit, aku menyukai awan-awan lucu yang menjadi teman terdekatmu, apakah mereka selucu yang aku lihat dari bawah sini ? bolehkah nanti aku memeluk mereka jika sudah tak lagi kudapatkan izin Tuhan menapakkan kaki di tanah? seringkali aku membayangkan awanmu tempat tidur raksasa yang mengizinkan kami melepas penat, karna dunia di bawahmu berisi banyak sekali hal jahat dan membosankan.

Langit, dinamikamu adalah kanvas terbaik milik Tuhan yang berisi abstrak keindahan. Dimana aku akhirnya mengetahui bahwa hebatnya hal-hal dibalik kamu membuat manusia sepertiku selalu meyakini, Tuhan takkan pernah kehabisan indah. Apa yang Tuhan titipkan di balik kamu langit, adalah perumpamaan perjuangan oleh manusia yang harusnya membuat kami berhenti merasa selangit sementara kami hanya sesuatu yang berasal dan akan kembali ke tanah.

Ada Kamu di Semesta Kecilku

Ada jalan setapak yang udaranya dipenuhi wajahmu, pada jalan itu pelukan kita mulai mematikan tiap rasa yang ingin membuncah, ketika rindu tidak lagi saling jamah. Setelah kepergianmu sayang, setiap hal datang dari arah mata angin tak terdefinisi kompas dan pergi bersembunyi dari deteksi radar. Tempat yang berisi keramaian sekalipun hanya terasa samar untukku. Patah hatiku kali ini yang paling parah. Kamu dan pilihanku membawa perjalanan ini terkurung penuh resiko.

Itukah kamu, buah dari benih yang aku tuai ? Buah yang tak hanya sekedar bagian dari 4 Sehat tapi juga 5 Sempurna. Seberapapun aku dimatikan hampa, segala yang sudah terjadi adalah hal yang harus aku urusi tanpa memupuk penyesalan. Dan kamu, sedang menunggu ranum untuk dipetik, sementara aku mencoba mengakar pada tanah basah, berharap sinar matahari membantuku menguatkan.

Apalagi yang harus aku bagikan ? Sejenak setelah kamu yang aku tahu sehari hanya terdiri dari 24 jam, tanpa memperdulikan lagi apa yang telah terlewati selama itu. Inikah aku sayang ? yang sedang tak lagi memperhatikan detak pada jarum jam, membiarkan semuanya berlalu seperti waktu yang membiasakan. Aku sedang berhenti membayangkan apa yang mungkin ada di depan sana. Waktu kejam sayang, ia pun hanya datang dan pergi tak peduli seberapa inginnya aku agar ia mengerti tentang rasa.

Ini bukan tulisan yang bisa menggugah hatimu, tidak juga membuat hatiku lebih baik. Semua sudah terjadi, kini hidupku hanya melewati segala waktu dengan sekedarnya. Sekedar bersyukur, sekedar merindu dan sekedar menulisimu lewat siratan kata. Apakah aku bahagia ? Iya sayang, sebab bagaimanapun dirimu, kita adalah akhir pustaka yang bersumber dari tawa.

Perhatikan alur cerita ini sayang, ada kamu di semesta kecilku.