Tampilkan postingan dengan label Alinea Alphabetica's. Tampilkan semua postingan

Kamu Pasti Bisa Sayang

Minggu terakhir di bulan Juni tahun 2025.

Awalnya, di malam itu dia merasakan sakit yang luar biasa. Mungkin, kali pertama tubuhnya seperti diserang sesak bertubi dan tiada henti. Akhirnya kami pergi menuju rumah sakit berharap disana dia bisa berhenti merasakan sakitnya.

Obat demi obat sudah masuk ke dalam tubuhnya. Malam itu, sakitnya belum kunjung reda. Melihat dia mencoba bertahan dalam kesakitan yang sangat, bukanlah hal yang bisa aku sanggupi. Akhirnya dia memutuskan untuk bermalam disana sambil menjalani serangkaian observasi pada tubuhnya.

2 malam berselang, saat sakitnya tak juga hilang. Kami memutuskan untuk mencoba pilihan perawatan di rumah sakit lain, sambil berharap kali ini hasilnya akan lebih baik. Bagiku, tak terbayangkan menit demi menit yang harus ia lalui untuk tetap melewati rasa sakitnya. Aku tahu bahwa keyakinan yang dia punya dan doa dari semua yang menyayanginya menjadi salah satu tempat terkuat untuk dia bersandar.

Saat diputuskan untuk melakukan operasi, kami hanya berpasrah sambil tetap yakin bahwa pilihan ini akan membawa kesehatannya kembali pulih.

Menunggu, dalam harap cemas. Selepas dokter memberikan penjelasan kepadaku bagaimana operasi telah berjalan. Sekitar 5 jam berlalu, belum ada panggilan untukku menemuinya. Dalam harap, aku selalu membayangkan bagaimana dia selalu ada dengan gayanya yang ceria dan bersemangat, tapi saat ini entah bagaimana keadaannya di dalam sana.

Saat akhirnya aku bisa menemui dia, perasaanku sangat bahagia karena ia dalam keadaan sadar, sambil tatap matanya bercerita bagaimana ia telah melawan badai. Sesampainya di kamar inap, usai kusampaikan bagaimana proses operasinya telah berjalan, tatapannya luruh. Hal yang mungkin dia sangka bukan sesuatu serius, ternyata menjadi sebuah keniscayaan yang harus dihadapi.

Sebagaimana aku menyayanginya, ku usahakan untuk menemani dia melewati waktu demi waktu agar ia tahu dan selalu menyadari bahwa ia pasti bisa melewatinya dengan baik. Banyak dukungan dan doa juga menyertai, menjadi bagian dari perjalanan yang tidak biasa ini.

Saat tulisan ini dibuat, masih dalam suasana redup sinar matanya, ia masih terus berusaha menggapai kesembuhan yang sedang ia perjuangkan. Kamu pasti bisa sayang. Setelah ini, mari kita usahakan kehidupan yang lebih sehat untuk keluarga kita, supaya terang di mata indahmu tak redup lagi dan kita semua bisa terus saling membahagiakan.

Untuk 3 tahun Digta bersama Ibu

Tulisan ini lagi lagi akan menceritakan tentang Digta.

Tahun ketiga Digta, pastinya sudah banyak sekali hal-hal baru yang Digta kasih di hidup Ibu dan Ayah. Mulai dari Digta yang seneng cerita, Digta bisa hafal surat-surat pendek, lagu anak-anak, banyak hal viral di Internet, Digta juga punya selera humor yang receh dan masih banyak lagi hal menakjubkan yang mungkin luput dari ingatan Ibu.

Saat membaca tulisan ini, Ibu pengen Digta tau, bahwa semua hal yang nanti Digta lakukan untuk hidup Digta mungkin akan jadi pengalaman baru juga buat Ibu dan Ayah. Ibu berharap kelak Digta bisa mengerti bahwa Ibu pun bukan yang bisa merasakan semua atau punya banyak pengetahuan tentang apa yang terjadi di kehidupan.

Digta, ngobrol bareng Digta di umur sekarang itu menyenangkan buat Ibu, apalagi kalau Digta lagi fokus dengerin Ibu cerita, meskipun mungkin Digta belum paham banget sama yang Ibu ceritain, tapi Ibu menikmati tiap detik saat cerita bareng Digta. Semoga suatu saat nanti Digta bisa punya pengalaman yang sama ke Ibu ya hehe.

Apalagi ya yang bisa Ibu ceritain di kesempatan ini, hmmm ,..

Gini aja deh, ada 1 hal yang mau Ibu bicarain langsung ke Digta di masa depan Ibu ngga tau sih bakal punya kesempatan buat ngomong ini ke Digta atau ngga, jadi, Ibu pengen Digta tau, bahwa di dunia ini sumber kebahagiaan bisa berasal dari mana aja tapi sumber kebahagiaan yang paling baik dan paling mudah bisa Digta dapet dari diri Digta sendiri. Pesan Ibu, jangan sampai Digta cuma melihat kebahagiaan dari satu sumber aja, apalagi kalo ada yang bilang kebahagiaan itu bisa Digta dapet dengan merusak diri Digta sendiri, jangan serta merta percaya tentang itu ya. Digta harus bisa menghasilkan kebahagiaan Digta sendiri yang tanpa menyusahkan orang lain, Ibu yakin Digta pasti bisa.

Oke, tulisan lain harusnya memang Ibu tuliskan tepat di saat apa yang Ibu rasakan terjadi. Soalnya pas menulis ini ada beberapa yang sepertinya Ibu lupa, maklum ya nak, banyak hal yang saat ini juga Ibu sedang rasakan dan pikirkan.

Semoga Digta bahagia selalu dan dalam lindungan Allah SWT.


Tahun Pertama Pradigta

Digta, ibu menulis ini sebagai pengingat ibu juga bahwa di tahun pertama digta jadi anak ibu dan ayah, digta mengajarkan bahwa digta bukan sekedar anak yang lahir gitu aja, digta lahir menjadi sesuatu yang pasti memberi kesan untuk semua orang yang sayang sama digta.

waktu awal ibu cerita tentang kelahiran digta, ibu sering bilang soal sakit dan capek, tapi itulah hidup digta, kesenangan ada diantaranya sebagai pengingat bahwa kita semua lahir untuk merasa dan berada di keadaan yang berbeda-beda. kalo kata slogan ciki, life is never flat.

tahun pertama digta ada di dunia ini, kita semua lagi sibuk sama virus covid 19, kelak digta bisa cari tau sendiri betapa hebohnya virus ini. alhamdullilah sampai tulisan ini dibuat, digta, ayah dan ibu sehat wal afiat dan terhindar dari penyakit itu, semoga begitu seterusnya, aamiin.

ulang tahun pertama digta, pas banget bulan ramadhan, ibu sama ayah nyiapin bingkisan buat teman-teman kecil digta dengan tema monster inc, ada boo yang imut kaya digta, seru nak haha.

ibu selalu dibantu uti buat ngerawat digta selama setahun ini, meskipun uti keliatan seneng, digta kecil juga sering bikin repot uti haha tapi gapapa, namanya juga masih bayi ya nak. kelak, kalau digta udah besar harus sayang juga ya sama uti.

digta, semoga perjalanan digta setelah tahun pertama selalu dalam lindungan Allah SWT ya. ibu dengan segenap yang ibu punya, baik itu kurangnya atau lebihnya akan berjuang buat digta supaya digta bisa senantiasa tumbuh dan menumbuhkan hal baik buat dunia ini. 

nb: kenapa ibu pengen digta senantiasa tumbuh? karna dalam perjalanannya, digta mungkin akan patah, tapi sebisa mungkin digta ga boleh hilang, harus bisa tumbuh lagi supaya digta bisa membantu orang lain untuk tumbuh jadi lebih baik juga. sebaik-baiknya manusia adalah yang bisa memberi manfaat untuk manusia lainnya.


salam sayang, ibu.

Anakku, Pradigta Sekar Laiqa

Anak perempuanku yang lahir 20 April 2020 melalui sebuah operasi karena posisinya sungsang dan terlilit tali pusar.

Menjadi awal perubahan dalam hidupku yang paling signifikan, bagaimana tidak? Tiap detik setelah melahirkanmu ke dunia, aku menjadi manusia yang baru tanpa tau rasa apa saja yang akan aku lewati. Tapi aku harus belajar dengan sungguh-sungguh menghadapi semua ketidaktauan itu.

Dalam ketidaktauan ku, aku bersama kompilasi rasa sakit dan rasa lain yang mengikuti, seraya berdoa agar bisa diberi kemampuan untuk tetap menjadi bagian dari inti hidupmu.

Ibu yakin, Digta akan menjadi anak yang kuat, baik dan sholeha seperti yang selalu ibu doakan. Ibu tau karna sejak dalam kandungan ibu, Digta selalu bantu ibu untuk jadi kuat, paling ngga Digta sudah menjadi alasan ibu untuk tidak mudah menyerah.

Terima kasih Digta, selamat datang di dunia nak. Semoga Ibu, Ayah dan Digta bisa selalu berbagi kisah yang senantiasa mengingatkan, bahwa kita selalu punya satu sama lain di dunia ini.

Halo, Alo ...



Nak, ini adalah sebuah lanjutan dari siklus hidup manusia di dunia.

Allah mempercayakan aku untuk dititipkan mahluk kecil kompilasi keajaiban kebesaran-Nya di alam semesta.

Sejujurnya, awal merasakan pengubahan dalam diri ini saat menerima kehadiranmu terasa tidak mudah. Tapi aku berusaha untuk belajar memahami dan beradaptasi dengan menanamkan pikiran bahwa kamu, baby kecilku, adalah jawaban doa dari Allah yang harus kami berikan yang terbaik, bukan karna seharusnya seperti itu, tapi karena keyakinan kami tentang alasan hadirnya kamu di dunia adalah untuk selalu bisa menemukan kebahagiaan dengan cara yang kamu percaya.

Sebelum berfikir soal harus seperti apa jadi orang tua yang baik, lagi-lagi aku bercerita, bahwa aku merasa payah menghadapi pengubahan hormon yang sedang terjadi dalam tubuh ini. Aku cuma ingin kamu tau apa yang aku rasakan, tapi perasaan ini sangat jauh dari keinginanku untuk tetap merawat kamu, menurutku itu lebih penting.

Aku-sedang-menjadi-bagian-dari-mahluk-lain-di-dalam-tubuhku-sendiri, how amazing that !!

Setelah beberapa waktu berlalu, aku dan ayah mulai berdiskusi bagaimana seharusnya kami bersiap dan bersikap untuk menyambut kamu dan menemani kamu berpetualang sampai nanti kamu memiliki perjalananmu sendiri.

Nak, cerita ini hanya awal, setelah ini perjuangan ayah dan ibu serta kita bersama, insya Allah akan menjadi perjalanan yang tak terlupakan, karena perjalanan ini akan terdiri dari bahagia, kesalahan, kemarahan dan air mata namun kita akan berusaha untuk membuat kisah ini tidak hanya sekedar kisah, tapi juga sesuatu yang bisa kamu jadikan bekal untuk apapun yang kamu butuhkan nanti.

Sehat selalu di dalam sana ya nak, saat ini kamu udah 5 bulan. Banyak hal sudah berhasil ibu lewati, ibu bisa karna ayah juga bantu ibu dan ayah juga sering minta tolong ke kamu with his silly words haha supaya kamu bisa baik-baik di dalam sana sampai nanti saatnya kita bertemu, insya Allah.

Alo, nama panggilan kamu dari kami untuk sementara saat kamu masih di dalam perutku.

Dari, aku yang berharap dan berusaha agar kelak bisa menjadi ibu yang "menemani" perjalananmu dengan baik dan ayah dengan cita-citanya sendiri akan membimbing kamu supaya kuat menjalani perjalananmu.

Catatan Kecil Perihal Awal dan Akhir



hai bii, tulisan ini seharusnya aku buat saat waktu belum terlalu lama berlalu, tapi nyatanya, waktu emang lagi cepat berlalu.

banyak orang berpendapat soal pernikahan, gimana seharusnya kita mempersiapkan diri sebelum menikah, saat akan menikah dan sesudah menikah. sesuatu yang padahal, sama-sama baru bisa kita pelajari dengan nyata setelah kita berani memutuskan.

kamu tau, kita udah cukup lama ada di dalam hubungan "non resmi" dari waktu awal kuliah, pisah dalam waktu yang cukup lama sampe akhirnya kita balik lagi. waktu-waktu yang entah bisa membuat kita pada akhirnya berani buat "meresmikan" hubungan kita.

pandangan yang selama ini aku tau soal diajak nikah, terasa beda waktu aku ngalaminnya bareng kamu, ga ada romantic proposal kaya di film-film, kamu cuma menjelaskan dan membuktikan dengan pasti kalo kamu berniat ngajak aku buat seumur hidup sama kamu dan gimana caranya kita bisa sampe kesana, itu udah cukup manis buat aku. karna selain aku sayang sama kamu, dapet kesempatan buat nikahin orang yang kita mau bisa jadi sesuatu yang langka buat orang lain. aku bahagia, karna Allah ngabulin doa aku untuk mempermudah jalan aku sama kamu yang berarti Allah ridho sama hubungan kita, aamiin.

keyakinan kamu nikahin aku mungkin beda sama keyakinan aku.

aku punya keyakinan, memilih kamu jadi pemimpin keluarga aku adalah karena aku tau, kamu punya sesuatu yang bisa ngarahin aku ke hal-hal baik yang datengnya dari perspektif kamu sendiri, sesuatu yang beda itu yang bikin aku sadar dan jadi lebih baik. pada dasarnya setelah itu, aku mengabaikan hal-hal lain yang merusak kesenangan nyata, ya seperti sesuatu semu yang akan habis atau lewat begitu saja.

aku tau, dan kamu pasti juga, kita sama-sama punya pilihan lain selain kita, saat sebelum memutuskan buat nikah. tapi toh pada akhirnya aku pilih kamu dan kamu pilih kamu, that's it. that' s our choices, no matter what happen at the future.

hari spesial kita dimulai tanggal 29 Juni 2019, sesaat setelah kamu selesai menunaikan ijab qabul, sedangkan tulisan ini dibuat 6 bulan setelahnya. setengah tahun setelah kegiatan senang-senang kita di jogja, kota yang emang kamu excited pengen kunjungi juga, ternyata kita udah pernah nangis bareng lho, belum karna kesulitan hidup yang tragis, masih tentang beraneka khawatir dan prasangka kita soal beberapa hal yang belum tentu sama kaya kenyataannya. tenang sayang, selama masih sama kamu dan kamu lagi ga ngediemin aku karna marah, aku udah bahagia ko 🤩

menjadi tulisan pertama aku juga di tahun 2019 meskipun ditulis di penghujung tahun, aku harap di waktu yang akan datang, aku sama kamu bisa terus menyadari keberadaan kita sebagai individu, saling menghargai, menyayangi dan melindungi saat kita sedang bekerjasama membangun dan mempertahankan keluarga kecil kita. i love you so much bii.

Keluarga

Aku ditempatkan Tuhan hidup bersama 4 orang yang terbiasa aku sebut, keluarga.



Satu orang Bapak, Ibu, Adik perempuan dan Adik laki-laki, aku memiliki semuanya tepat satu orang kecuali kakak. Maka dari itu, akulah anak pertama yang Tuhan percayakan pada kedua orang tuaku.

Dalam tulisan ini, aku akan bercerita bagaimana pandangan dan perasaanku saat tumbuh dan berkembang di tengah keluarga ini, setidaknya dari yang bisa aku ingat hingga tulisan ini dibuat.

Bapak

Laki-laki yang pertama kali aku melihat ia meneteskan air mata dan aku merasa ia paling bersedih adalah saat Mbah Kakung yang tidak lain ayahnya, meninggal dunia. Mungkin bukan berita yang mengejutkan dan bukan juga berita yang ditunggu, karna Mbah memang sudah menunjukkan penurunan kesehatan sejak lama dan cukup drastis. Namun bukan berarti Bapak tidak mengalami perasaan terpukul saat mendengarnya, terlebih Bapak sedang tidak berada di Jakarta saat itu. Aku melihat Bapak kehilangan fokusnya, ia banyak termenung seperti ... benar-benar kehilangan.

Bapak adalah orang yang selalu berhasil membuat aku tertawa, entah dengan lelucon yang spontan atau ia akan dengan sengaja menambah lucu sesuatu yang tidak masuk akal. Tapi, ada satu hal yang sebenarnya meresahkan, yaitu saat dia membuat lelucon, dia seringkali "ngecengin" orang dengan majas ironi atau bahkan sarkasme, sesuatu yang sangat aku khawatirkan akan melukai perasaan orang lain. Mama pun jadi sering terbawa dengan hal itu.

Dibalik level humor Bapak yang menarik, saat marah Bapak sering menunjukkan sikap tegas yang tidak jarang membuat semua anggota keluarga jadi takut (tapi aku ga yakin adik laki-lakiku merasakan hal yang sama). Saat ada masalah keluarga di keluarga besar, Bapak sering dimintai pendapat atau bahkan diminta untuk menengahi masalah tersebut, membuat aku kagum karna Bapak memiliki kemampuan yang baik dan bijak untuk membantu orang lain. Sampai suatu saat keluarga kami yang menghadapi masalah, Bapak tidak sehebat biasanya, ia menunjukkan sikap yang cukup mengecewakanku saat itu, membuat aku menyadari, Bapak juga manusia biasa yang memiliki sisi rapuhnya sendiri.

Dibalik semua kelebihan dan kekurangan Bapak, aku selalu percaya Bapak adalah orang tua yang memperjuangkan kebahagiaan keluarganya, bertanggung jawab atas semua kewajibannya dan memiliki harapan baik untuk setiap masa depan anak-anaknya.

Mama

Perempuan yang memiliki tingkat ke(drama)an paling parah menurutku, dalam keluarga ini :)

Mama adalah seorang ibu yang ceria dan memiliki semangat cukup tinggi dalam kegiatan sehari-harinya. Saat menginginkan sesuatu Mama tidak akan berhenti berusaha agar bisa mendapatkannya, hal itu bisa menjadi kelebihan atau kekurangan Mama. Mama memiliki spontanitas yang cukup baik saat memberikan pendapat atas sesuatu, kalau ada yang tidak setuju, lebih baik kamu diam, karena berdebat dengan dia bukan pilihan yang baik untuk dilakukan, kamu mungkin akan sakit hati sendiri atau malah menyakiti dia.

Saat bertemu dengan masalah, selain mengeluarkan jurus dramanya Mama juga memiliki cara yang baik untuk menenangkan diri, yaitu dengan sholat. Contoh baik yang sedang aku terapkan pada diri sendiri agar tidak larut dalam masalah. Mama juga selalu sadar akan kewajibannya sebagai ibu dan istri, sekalipun kami tidak selalu bisa membantu. Jika hal itu terjadi, maka Mama akan marah karena pekerjaan menjadi ibu rumah tangga memang tidak mudah. Maaf ya Mah, kami masih selalu merepotkanmu dan menunda waktu saat seharusnya kami lekas membantumu :)

Mama suka sekali bercerita tentang kesehariannya dan tidak jarang Mama juga ingin mengetahui bagaimana cerita anak-anaknya. Oleh karena itu, Mama mengikuti beberapa akun sosial kami, jadi dia bisa tetap melihat bagaimana keadaan anak-anaknya. Oia, akhir-akhir ini Mama juga lagi gampang sakit, semoga lekas sembuh dan sehat terus Mah.

Seringkali jadi orang yang pendapatnya tidak sejalan dengan pemikiranku, Mama sudah mengajarkan banyak hal, terutama bagaimana caranya menjadi kuat sebagai wanita, istri dan ibu dalam sebuah keluarga.

Adik Perempuan

Dia satu-satunya Adik Perempuanku yang memiliki tingkat ketidak laziman sangat tinggi. Namun dia selalu menjadi yang lebih baik dari aku.

Bapak dan Mama akan lebih mempercayakan Adik Perempuanku untuk membuat masakan di rumah. Dia juga satu-satunya diantara kami yang berhasil konsisten menjalani pendidikan dengan status negeri dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, proud of you Nin.

Aku merasa Adik Perempuanku juga yang paling bisa netral saat menghadapi masalah, sementara aku mungkin akan menunjukkan emosi terlebih dulu. Sejauh ini, Adik Perempuanku menjadi tempat yang asik saat mengobrol santai atau serius.

Saat tulisan ini dibuat, ia sedang menjalani tugas magangnya. Semoga lancar dan semoga skripsi sampai wisudanya juga berjalan dengan baik.

Adik Laki-laki

Menjadi anak yang paling ditunggu oleh Bapak dan Mama, Adik Laki-lakiku sempat mengalami sakit yang cukup serius saat kecil, membuat orang tuaku harus bolak-balik ke rumah sakit dan harus selalu memantau kesehatannya. Ketika sudah besar pun, dia sempat beberapa kali mendapat penanganan intensif dokter meskipun untuk penyakit yang alhamdullilah tidak serius.

Saat kecil, dia adalah Adik Laki-laki manis yang tidak mau mengalah. Namun, aku merasa perubahan besar terjadi saat dia selesai melakukan proses khitanan. Dia menjadi anak yang nakal, susah untuk mendengar perintah dan berkomunikasi yang baik dengan orang lain dan dia juga memiliki ego yang cukup tinggi.

Namun Adik Terkecilku ini, bukan anak cowok yang suka meminta banyak hal terutama kepada orang tuaku. Sesuatu yang mungkin sulit untuk aku dan adik perempuanku lakukan hihi.

Saat tulisan ini dibuat, Adikku Ini sudah menjadi lebih dewasa. Sekarang dia mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah, dia mau menemani Mama mengobrol dan banyak membantu hal lainnya. Semoga dia menjadi seseorang yang lebih baik lagi, semakin bisa menghargai orang lain terutama kepada yang lebih tua dan mengurangi ego-nya serta semoga dia mau sholat hehe.

Penutup

Begitulah cerita tentang 4 orang yang menemani keseharianku, saat susah maupun senang, saat jauh ataupun dekat. Semoga masa depan kita semua menjadikan kita tetap saling dukung, tidak menjadi jauh hanya karena hal-hal terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita dan semoga keluarga kita memberi makna yang baik, yang bisa kita jadikan dasar serta kenangan yang membanggakan. I LOVE YOU ALL.



Tentang Hari Ini

Sebuah tulisan untuk mengapresiasi diri sendiri,

hari ini 3 Maret 2018, sebuah penanda untuk diriku yang sudah cukup umur saat memandang serius soal pilihan.



Malam sebelum hari ini, aku dihadapkan oleh pilihan yang tidak cukup sederhana. Lalu, saat sadar waktu tidak lagi bisa ditawar, aku memutuskan sambil terus meyakinkan diri, bahwa apapun yang terjadi pada hidupku setelah pilihan yang aku buat, aku harus berani menerima resikonya.
Tak peduli soal sesal atau kemungkinan tidak baik lainnya, karna aku tau, kita bisa saja sedih karna banyak hal di luar sana, tapi cuma kita, yang bisa memutuskan bahagia untuk diri sendiri.

Sepertinya semesta beberapa tahun belakangan memberi 'kejutan' untuk aku, selalu di malam sebelum hari ini.

Kemudian, ada pernyataan dari kekasih tentang keraguan perasaannya yang membuat aku cemas dan sedih. Karna bisa saja, hal itu menghadirkan keyakinan baru. Keyakinan untuk menjadi sangat tidak yakin menjalani ini bersama, lebih lama lagi.

Lalu pagi tiba,

aku harus bisa senantiasa bersyukur atas apa yang masih menemaniku hari ini. Mulai hari ini, apa yang penting untukku adalah masih bisa memiliki kemampuan untuk tetap sederhana dalam memilih bahagia, tapi juga tidak berhenti untuk jadi yang terbaik, semampu yang aku bisa sampai kekuatanku habis.

Untukku, tidak ada apresiasi terbaik untuk diri sendiri selain tidak lupa kalau diri ini masih belum menyerah untuk jadi baik dan berbagi kebaikan, juga untuk selalu ingat bahwa manusia termasuk aku akan senantiasa belajar sambil hidup.

(Tulisan ini selesai diketik saat lagu Mr. Sonjaya - Sang Filsuf diputar)

Bagaimana Kabarmu Teman?


Teman,


gue merasakan kehadiran mereka sebagai bagian yang cukup penting dalam proses kehidupan gue. Berbagai macam jenis teman yang pernah gue temui: teman yang cuma gue kenal namanya, teman yang kebetulan satu kelas sama gue, dan teman yang memang peduli akan banyak hal di hidup gue.

Di luar seberapa dekat gue dengan mereka secara langsung, bisa mengetahui bagaimana keadaan mereka sekarang, bahkan hanya melalui sosial media menjadi salah satu pengetahuan yang ga jarang menghadirkan senyum kecil di bibir gue, misalnya kaya gini :) kecil kan?

Perasaan senang saat melihat teman gue satu per-satu mulai berani memasuki babak baru dalam hidup mereka. Teman-teman gue yang mulai berbagi banyak hal soal kehidupan yang mereka percaya, soal apa yang berhasil mereka dapetin, apa yang menjadi impian mereka dan usaha mereka untuk mendapatkannya, semua cerita mereka tentang keluarga kecil mereka, menjadi hal menarik dan menyenangkan untuk diketahui, pun ga semua cerita yang mereka bagi menyenangkan, setidaknya mengetahui mereka berhasil ngelewatin proses itu dengan cukup baik, ngejadiin cerita mereka tetap seru buat disimak.



Ga jarang gue pengen ngobrol langsung sama mereka, dan jangan kira gue ga nyoba, tapi setelah nyoba, gue harus puluhan kali reschedule sampai akhirnya kita bisa ketemu atau berakhir sebagai wacana aja. Yang terakhir itu lebih sering gue rasain.

Terlepas dari keinginan gue yang seringkali kebentur kenyataan soal bisa main bareng teman-teman semua, gue berdoa semoga kalian senantiasa berbahagia dengan setiap langkah dalam kehidupan kalian sekarang, hal-hal yang masih menjadi misteri di kehidupan kita semoga pada akhirnya memberikan pelajaran dan pengalaman yang ngasih nilai baik di hidup kita.

Terima kasih secara tidak langsung untuk kehadiran kalian semua, baik yang mengenal gue secara langsung atau yang ga tau sama sekali soal gue. Kalian sedikit banyak udah jadi inspirasi di hidup gue, dan mungkin seperti itulah seharusnya manusia memaknai kehidupan, saling menginspirasi. Terima kasih juga untuk hati baik kalian :)


(Tulisan ini ditulis saat mendengarkan lagu Tulus: Monokrom)

Perlakuan Jarak



Aku setuju pada setiap pernyataan yang mengatakan ...
jarak bukan soal angka dalam Kilometer yang harus kita tempuh.
Jarak adalah tentang apa yang kita pilih untuk membatasi kita.

Dan jarak terjauh adalah,
saat kita memiliki kesempatan untuk dekat tapi malah memilih untuk menjauh.
Dan hening yang kita bagi, menjadi sandaran kita.
Lantas waktu membuat kita bias.


Kita Tidak Lagi Bertepuk Sebelah Tangan


Ini, bukan tentang bersatunya sesuatu yang baru.
Ini tentang tangan kita yang merengkuh kecewa. 
Jauh dari gambaran keindahan, namun senantiasa mengajarkan bahwa,
dibalik kepahitan ada makna yang menunggu untuk ditemukan.

Kita tidak lagi bertepuk sebelah tangan, karena kita telah begitu banyak mengecewakan.
Lalu kita berusaha kembali merengkuh asa, meski mungkin tak utuh lagi.
Sebab tiap luka pasti meninggalkan bekas pada tuannya.
Untukku,
kamu bukan hanya sekedar objek menarik yang mengisi kekosongan atau sebagai pelipur lara.
Bagiku,
semua tentangmu adalah proses yang telah membentuk aku.


Tidak ada kata yang sanggup menahan kesedihan kita.

Tidak ada nyali yang ku miliki saat perpisahan adalah kemungkinan yang kamu tawarkan.

Tapi percayalah, 
aku memiliki keyakinan yang sama untuk masa depan kita, yang mungkin sukar untuk kamu pahami.

Semoga perbuatan saling mengecewakan ini berhenti.

Karna aku tidak ingin, kehilangan tangan yang sudah saling mengenggam.




Resah ini Belum Akan Usai

Ini semua berasal dari keresahan aku tentang ketidakmampuanku menjadi apa yang kamu mau.

Katanya kalo sayang harus bisa menerima apa adanya? ya kalaupun berubah, harus untuk yang lebih baik. Terus, dimana batas yang harus bisa kita terima dari apa adanya kita? yang sekaligus bikin aku dan kamu sama kaya yang kita mau?



Perbedaan yang seringkali kita temui, entah besar atau kecil seringkali membuat resah. Harus ga sih soal ini selalu dipermasalahkan? Sementara resah yang aku rasa, ibarat luka yang sangat meminta untuk segera diobati.

Aku ga tau apa yang pasti bisa bikin kita bener-bener cocok, kalau salah satu dari kita berhenti melakukan apa yang kita mau? Emang sayang aja cukup? Emang sayang doang bisa bikin perasaan jadi lebih baik tiap kali ego kita terluka?

Akhirnya, aku dan keresahan ini mulai menimbang-nimbang tentang kebenaran apa yang bisa kita andalkan untuk bertahan?

Aku cuma pengen menyesuaikan resah ini dengan jawaban kamu yang mungkin ngasih jalan keluar. Tapi di sisi lain, aku ga mau kamu capek ngejawab semua keresahan aku yang ga jarang bikin kamu terluka juga.

Mungkin saat ini, diam dan ngebiarin semuanya berjalan gitu aja adalah yang paling baik. Sengganya, beban hidup kamu soal apa yang selalu jadi resah dan ribet aku jadi berkurang.

Kita liat aja, ini bakal ngebawa kita kemana.