Sebuah Langkah Menujumu

Adalah kamu, keindahan yang ternyata tak memiliki jarak berarti. Di suatu sore yang tak pernah ku sangkakan, ku kumpulkan nyali untuk bertemu denganmu. Kita menyapa, bertukar senyum dan berjabat tangan seraya mengucapkan nama, nama kita yang ternyata sama.

Aku ingat, sore itu baru selesai diguyur hujan, suasananya sejuk dan kamupun ramah. Aku ingat sejak setelah itu kita berbagi lelucon hangat dan tawa kita melebur tanpa batas. Aku ingat, kamu adalah kamu yang pada usahamu hanya inginkan bahagiaku tapi aku hanyalah perempuan yang tak bisa merasa cukup.

Pertemuanku denganmu takkan terulang, terlalu banyak rasa yang terlahir dari sebuah langkah yang menujumu. Hingga sebuah pilihan menyadarkanku, membuat tiap pertemuan menyenangkan kita berakhir menjadi pertemuan yang terdiri dari basa-basi. Pertemuan dan kehilangan kita membuat banyak perbedaan. Semoga dari perbedaan ini aku dan kamu kembali menemukan langkah baru yang mendewasakan.

Langkahku menujumu, pada awal dan akhir akan selalu ku ingat, bahwa tak ada kesia-siaan atas setiap langkah kaki dan perasaan hati yang tertuju untukmu. Semoga di langkah lain kamu menyadari, pernah ada sebuah langkah menujumu yang tak pernah menyesali jejaknya. Inilah sebuah masa yang aku nobatkan sebagai "For The First Time In Forever".

Menyapamu Dari Hati

Hai, tertahan lagi kata sederhana itu. Ada debar yang terlalu hebat mengekang pita suaraku. Hanya menyapa dan aku tak kuasa. Saat ini aku hanya berharap suara hati akan lebih keras dari suara dalam frekuensi infrasonik, agar lebih mudah untukku menyapamu.

Kadang memang aku merasa konyol atas segala debar dan khayal untuk sekedar berbicara dengannya. Aku pernah memiliki kesempatan itu, dia mengetahui keberadaan perasaanku yang mengaguminya. Sejak saat kita tau kita tak bisa sepaham rasa, saat itu pula kekeluan ini merajai setiap inginku.

Hai kamu, aku menyapamu dari hatiku. Kamu masih tetap pada keindahan itu, keindahan tak terdeskripsi. Aku kembali menyimpan sapa ini, semoga tersampaikan sapaku walau hanya lewat hatiku.

3 adalah aku

Cinta ini adalah 3, angka 3. Hari itu tanggal 3, bulan 3 Tuhan menghadirkan ku ke dunia melalui rahim Mama. Aku tak pernah benar mengingat saat-saat pertama itu, yang biasa orang ceritakan hanya, banyak hal berkesan saat pertama kali Mama menjadi Ibu.

Mama masih mengingat dan seringkali menceritakan tentangku saat kecil. Betapa ia masih menyimpan memori itu dengan baik, tentang perasaannya saat melewati kenangan manis dan pahit dalam perjalanannya merawatku.

Sejak tanggal 3 pertamaku banyak juga hal yang sudah aku lewati, hingga saat ini aku masih meraba apa yang sedang Tuhan ingin tunjukkan padaku. Aku sedang meraba apa yang sedang menjadi tujuanku. Aku mencoba menggunakan hariku dengan baik, ya ... setidaknya aku mencoba.

Aku mencintai 3, karna 3 bagian dariku, dan karena mama mencintaiku sejak 3.

Pertama dan Satu

Tak hanya sekedar mengikuti kegiatan semusim ini, aku ikut menuliskan tentang cinta, karna aku merasakan cinta tapi cinta ini tak menentukan kemana arah dan tujuannya.

Untukku ini adalah langkah Pertama, menulis tentang cinta untuk secara sengaja aku bagi pada keramaian.

Aku akan berusaha menceritakan tentang Satu cinta dalam keheningan yang sama meski dengan warna yang berbeda.

Ketika memulai untuk hari pertamaku menulis dalam #30HariMenulisSuratCinta, aku memilih Pertama dan Satu dalam sebuah kesemogaan agar pengalaman Pertama ini menemukan jawaban dalam Satu paham yang menenangkan.

Cinta, apabila sesuatu tersentuh olehmu dalam kali Pertama, maka hanya kamulah Satu rasa hakiki yang mengiringi langkah, dan di dalam kamulah ada Satu sejuk yang menghangatkan hati selayaknya perasaan Pertama.

A Day In A Day

Tisa, seorang perempuan biasa yang memiliki kepribadian cenderung tertutup, menyukai hal sederhana yang memiliki keserasian, sedang menatap cermin dan memandang kosong ke arah pantulannya. Ia sedang berfikir tentang ribuan pertanyaan dalam hatinya dan mengapa banyak sekali suara-suara di dalam kepalanya yang selalu bertanya 'kenapa'. Setiap hari Tisa melakukan kegiatan normalnya atau setidaknya kegiatan yang membuat dia terlihat normal seperti orang lain. Di hari-harinya dia mencoba menikmati segala proses meski akhir-akhir ini ia mulai kehilangan keyakinan untuk apa dia melakukan sesuatu dalam hidupnya. Tisa selalu memiliki ruang kosong dalam hatinya yang entah mengapa tak pernah rela ia biarkan terisi. Tisa merasa ruang kosong itu adalah alat yang akan menyelamatkannya ketika perasaan atau kepalanya terlalu penuh dengan hal yang bahkan tak pernah ia mengerti mengapa itu semua ada.

Tisa tidak mengerti mengapa manusia harus bergerak jika ingin berpindah, ia tak mengerti kenapa seseorang harus marah hanya agar orang lain mengerti bahwa dirinya sedang kesal, Tisa tidak mengerti mengapa semua terjadi, mengapa semua terfikirkan, mengapa semua ada. Tapi, Tisa tidak bisa menghindari bahwa ia memiliki kegemaran untuk mengagumi semesta dan Tisa biasa mengekspresikannya dengan membuat sebuah potret indah yang diikuti cerita tentang potret tersebut.

Pada suatu sore, saat kota dimana Tisa tinggal baru saja dibasahi hujan, Tisa mulai meresapi keberadaannya di pinggir jalan itu. Tisa mulai menikmati wangi tanah yang basah terkena hujan, melihat beberapa wajah tampak lesu dan menyiratkan bahwa mereka hanya rindu rumah, lebih dari apapun. Banyak hal telah terekam dibenak Tisa ketika Tisa diam dalam sejuknya suasana setelah hujan. Sejenak sebuah senyum menghampiri wajah Tisa, Tisa ragu untuk membalas tapi ia fikir apalah arti sebuah senyum untuk orang asing yang mungkin takkan pernah ia temui lagi, lalu Tisa membalas senyum itu. Tak ada hal lain yang lalu terjadi setelah pertukaran senyum itu, Tisa kembali diam dan menikmati diamnya.

Tisa selalu merasa ada 2 hal indah di bumi ini yang selalu dimiliki oleh setiap orang yang kadang kurang disadari, yaitu sebuah senyuman dan tatapan mata. Tisa seringkali mengagumi beberapa senyum manis yang dimiliki orang lain, Tisa merasa ketika seseorang tersenyum, di dalam senyumannya ada sebuah rasa nyaman dan menyenangkan yang mengikuti. Lalu pada tatapan mata, Tisa merasa seseorang diperhatikan tanpa harus melakukan sesuatu yang berlebihan yang kadang justru malah mengalihkan makna dari perhatian. Tisa selalu menyukai senyum terutama senyum yang berkembang ketika lelah atau susah sedang menghampiri seseorang, seperti sesuatu baik sedang ditularkan kepada orang lain. Tisa juga sangat menyukai tatapan mata seseorang ketika sedang berbincang, tapi lucunya, Tisa tidak pernah bisa benar-benar menatap mata seseorang lebih dari 10 detik ketika sedang berbincang dan terutama jika orang itu adalah seorang lelaki. Tisa selalu membatasi dirinya agar tidak terjebak lama di dalam tatap seseorang, karna Tisa tahu terjebak di dalamnya akan membuat perasaannya tak sama lagi.

Tisa memiliki banyak cerita dalam sebuah hari di dalam harinya, tapi Tisa tak tahu untuk apa ceritanya ada dan mengapa ia harus terus membuat cerita dalam hidupnya. Seringkali Tisa merefleksikan cerita hidupnya bagai sebuah film, hanya saja tangis dan tawanya terasa jauh lebih nyata dan tak ada pemeran pengganti yang bisa diandalkan. Tisa masih tak mengetahui apa yang sebenarnya ia lakukan disini, mengapa hidup diciptakan untuk seseorang, mengapa hidup harus dijalani dan banyak pertanyaan lain yang selalu timbul tenggelam dalam benaknya. Tisa hanya berusaha melakukan perbaikan dan hal baik dalam perjalanan hidupnya, berdoa agar apa yang sedang diusahakannya berada di jalan yang benar, menceritakan apa yang telah dilewatinya kepada mereka yang mau mendengarkan dan terus berharap mendapat jawaban atas pertanyaan dalam sebuah hari di dalam harinya.