Dari Batas

"surat ini ditulis diiringi lagu payung teduh - kucari kamu"

Aku sedang tidak membicarakan kedalaman hati. Aku sedang menerawang di tengah kabut, menerka ada apa dibalik mimpi dan nyata.

Batas. Sesuatu dalam jarak yang menjarakki. Batas mengajariku memilah mana yang perlu dan tidak. Batas memiliki keindahan karena mengajari dan mempermainkan disaat yang bersamaan.

Cinta dalam batas membuatku merasa spesial, karena dari batas aku memandang cinta dalam perspektif yang logis. Cinta dengan keterbatasan adalah sempurna yang terkendali, maka berbahagialah saat cinta dan batas bergandengan bersama tak kenal lelah.

Terima kasih batas, karena kehadiranmu sesak bukan lagi alasan untuk takut.

Sebuah Langkah Menujumu

Adalah kamu, keindahan yang ternyata tak memiliki jarak berarti. Di suatu sore yang tak pernah ku sangkakan, ku kumpulkan nyali untuk bertemu denganmu. Kita menyapa, bertukar senyum dan berjabat tangan seraya mengucapkan nama, nama kita yang ternyata sama.

Aku ingat, sore itu baru selesai diguyur hujan, suasananya sejuk dan kamupun ramah. Aku ingat sejak setelah itu kita berbagi lelucon hangat dan tawa kita melebur tanpa batas. Aku ingat, kamu adalah kamu yang pada usahamu hanya inginkan bahagiaku tapi aku hanyalah perempuan yang tak bisa merasa cukup.

Pertemuanku denganmu takkan terulang, terlalu banyak rasa yang terlahir dari sebuah langkah yang menujumu. Hingga sebuah pilihan menyadarkanku, membuat tiap pertemuan menyenangkan kita berakhir menjadi pertemuan yang terdiri dari basa-basi. Pertemuan dan kehilangan kita membuat banyak perbedaan. Semoga dari perbedaan ini aku dan kamu kembali menemukan langkah baru yang mendewasakan.

Langkahku menujumu, pada awal dan akhir akan selalu ku ingat, bahwa tak ada kesia-siaan atas setiap langkah kaki dan perasaan hati yang tertuju untukmu. Semoga di langkah lain kamu menyadari, pernah ada sebuah langkah menujumu yang tak pernah menyesali jejaknya. Inilah sebuah masa yang aku nobatkan sebagai "For The First Time In Forever".

Menyapamu Dari Hati

Hai, tertahan lagi kata sederhana itu. Ada debar yang terlalu hebat mengekang pita suaraku. Hanya menyapa dan aku tak kuasa. Saat ini aku hanya berharap suara hati akan lebih keras dari suara dalam frekuensi infrasonik, agar lebih mudah untukku menyapamu.

Kadang memang aku merasa konyol atas segala debar dan khayal untuk sekedar berbicara dengannya. Aku pernah memiliki kesempatan itu, dia mengetahui keberadaan perasaanku yang mengaguminya. Sejak saat kita tau kita tak bisa sepaham rasa, saat itu pula kekeluan ini merajai setiap inginku.

Hai kamu, aku menyapamu dari hatiku. Kamu masih tetap pada keindahan itu, keindahan tak terdeskripsi. Aku kembali menyimpan sapa ini, semoga tersampaikan sapaku walau hanya lewat hatiku.

3 adalah aku

Cinta ini adalah 3, angka 3. Hari itu tanggal 3, bulan 3 Tuhan menghadirkan ku ke dunia melalui rahim Mama. Aku tak pernah benar mengingat saat-saat pertama itu, yang biasa orang ceritakan hanya, banyak hal berkesan saat pertama kali Mama menjadi Ibu.

Mama masih mengingat dan seringkali menceritakan tentangku saat kecil. Betapa ia masih menyimpan memori itu dengan baik, tentang perasaannya saat melewati kenangan manis dan pahit dalam perjalanannya merawatku.

Sejak tanggal 3 pertamaku banyak juga hal yang sudah aku lewati, hingga saat ini aku masih meraba apa yang sedang Tuhan ingin tunjukkan padaku. Aku sedang meraba apa yang sedang menjadi tujuanku. Aku mencoba menggunakan hariku dengan baik, ya ... setidaknya aku mencoba.

Aku mencintai 3, karna 3 bagian dariku, dan karena mama mencintaiku sejak 3.

Pertama dan Satu

Tak hanya sekedar mengikuti kegiatan semusim ini, aku ikut menuliskan tentang cinta, karna aku merasakan cinta tapi cinta ini tak menentukan kemana arah dan tujuannya.

Untukku ini adalah langkah Pertama, menulis tentang cinta untuk secara sengaja aku bagi pada keramaian.

Aku akan berusaha menceritakan tentang Satu cinta dalam keheningan yang sama meski dengan warna yang berbeda.

Ketika memulai untuk hari pertamaku menulis dalam #30HariMenulisSuratCinta, aku memilih Pertama dan Satu dalam sebuah kesemogaan agar pengalaman Pertama ini menemukan jawaban dalam Satu paham yang menenangkan.

Cinta, apabila sesuatu tersentuh olehmu dalam kali Pertama, maka hanya kamulah Satu rasa hakiki yang mengiringi langkah, dan di dalam kamulah ada Satu sejuk yang menghangatkan hati selayaknya perasaan Pertama.